Rabu, 13 Desember 2017

Menulis Buku Best Seller Itu Gampang

Menulis Buku Best Seller Itu Gampang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Saya kenal dengan banyak orang yang tidak bisa ketika mereka mau, karena mereka tidak melakukannya ketika mereka bisa.” – Francois Rabelais (Pengarang Perancis)

Apa yang pertama membuat saya tergerak menulis buku unik ini? Tak lain adalah sebuah perbincangan hangat di ruang tamu Gedung Kompas-Gramedia lt.4 pada akhir 2003 lalu. Saya bertemu dua teman lama yang berprofesi sebagai peneliti, dan berdiskusi mengenai situasi ekonomi-politik menjelang Pemilu 2004. Sungguh, rasanya tak sejengkal isu pun bakal terlewat jika sedang asyik berdiskusi dengan para intelektual seperti mereka. Kedua rekan saya itu sangat antusias, sambung-menyambung argumentasinya, dan memperdebatkan begitu banyak isu menarik yang hendak dituangkan dalam bentuk tulisan atau buku politik.

Beberapa ide yang sempat mereka kemukakan antara lain adalah membuat buku track record dan janji-janji para politisi kondang, rapor merah partai-partai, catatan pemilu dari tahun ke tahun, humor politik, sampai ide buku tentang pariwisata klenik. “Kalau dibukukan, rasanya tema-tema tadi pasti digemari orang. Bisa-bisa jadi buku best seller…” ujar teman saya bersemangat sekali. Antusiasme diskusi membuat segalanya menjadi menggairahkan dan seolah begitu mudah diwujudkan. Tentu saja saya sambut hangat ide-ide teman-teman saya ini. Maklum, keduanya setiap hari bergelut dengan informasi terbaru, akses datanya tak terbantahkan, penguasaan metodologi penelitian bisa diandalkan, dan m
... baca selengkapnya di Menulis Buku Best Seller Itu Gampang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 10 Desember 2017

Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara

Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

TIGA penunggang kuda memperlambat lari tunggangan masing-masing ketika mencapai sebuah mata air di kaki Gunung Gede sebelah timur. Saat itu sang surya baru saja menggelincir dari titik tertinggi-nya udara yang sejuk di kawasan itu membuat terik cahaya matahari tidak terasa menyengat.
Penunggang kuda sebelah depan, seorang kakek berjubah kuning, berwajah merah seperti udang rebus dan cuma punya satu alis yaitu di atas mata kiri henti-kan kuda dekat mata air diikuti dua temannya. Dari peralatan penutup mata serta tanda-tanda pada pelana yang dimiliki tiga ekor kuda besar agaknya ke tiga penunggangnya bukan orang-orang sembarangan. Paling tidak mempunyai hubungan tertentu dengan Kerajaan di wilayah timur.

"Jika melanjutkan perjalanan dengan berlari, kurasa akan lebih cepat sampai di puncak gunung. Kita bisa meninggalkan kuda di tempat ini. Ada air, banyak rumput. Kelihatannya juga cukup aman. Bagaimana pendapat ki sanak berdua?" Si jubah kuning yang di Keraton Jawa Tengah dikenal dengan panggilan Lor Sakti Alis Tunggal bertanya pada dua temannya.

"Aku setuju saja," jawab kakek bermata juling mengenakan pakaian ringkas biru, lengkap dengan blangkon yang juga berwarna biru. Pada bagian depan blangkon menempel kepala see
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1